Pemkab Tak Akui Pasar Blok Koneung- Curug Agung Lama

Pasar  Blok Koneung- Curug Agung Lama

NGAMPRAH - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat menegaskan bahwa Blok Koneung yang sekarang dijadikan tempat berjualan bukan pasar. Lokasi Blok Koneung berada didepan stasiun Padalarang, Desa Kertajaya, Kecamatan Padalarang. 

Berbagai upaya dilakukan pemerintah sejak tahun 2015, beik dengan penertiban maupun melalui pendekatan persuasif, namun belum berhasil mencegah pedagang untuk berjualan di Blok Koneung. Seharusnya, pedagang yang berjumlahnya puluhan itu berjualan di Pasar CurugAgung Padalarang. 

"Pemerintah tetap tidak mengakui kalau Blok Koneung itu pasar. Dilihat dari sisi tata ruang saja sudah salah, karena bukan diperuntukan buat pasar. Hanya memang sulit memindahkan para pedagang ini ke Pasar Curug Agung Padalarang yang j araknya tidak j auh dari Blok Koneung," kata asisten Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Kabupaten Bandung Barat, Dodo Suhendar di Ngamprah, Kamis (31/10). 

Ditegaskannya, pemerintah tidak gegabah dalam menyikapi persoalan Blok Koneung. Sejumlah strategi akan diambil, diantaranya menambah sarana dan prasarana yang ada di Pasar Curug Agung, mulai dari kios, sampai penataan terminalnya. 

"N anti setelah fasilitas-fasilitas itu selesai dibangun, diharapkan para pedagang bisa pindah ke Pasar Curug Agung," tandasnya. 

Diakuinya, kesulitan yang dihadapi pemerintah daerah dalam memindahkan pedagang karena lahan di Blok Koneung bukan aset negara, melainkan lahan milik pribadi. Namun ada wacana pemerintah akan membebaskan lahan tersebut. 

"Bisa saja tanah di Blok Koneung dibebaskan oleh pemerintah, seiring dengan rencana penataan wilayah Padalarang ke depan. Memang akan ebih mudah memindahkan pedagang jika mereka berjualan di tanah milik pemerintah," tandasnya. 

Keberadaan pedagang di Blok Koneung menuai protes dari pedagang Pasar Curug Agung. Kedua kelompok pedagang tersebut tadinya sama-sama berjualan di Pasar Curug Agung lama. Namun karena ahannya akan digunakan PT. Kereta Api Indonesia (KAI), akhirnya Pemkab Bandung Barat membangun Pasar Curug Agung untuk menampung pedagang.

Namun sayangnya, sebanyak 83 pedagang tidak dapat tertampung di Pasar Curug Agung baru. Mereka kemudian memilih membuka tempat usaha di lahan warga setempat, yaitu Blok Koneung. 

Keberadaan pedagang di Blok Koneung tak urung menuai protes dari pedagang Pasar Curug Agung. Akibat terdapat dua pasar di Desa Kertajaya, membuat calon pembeli terbelah dua. Pasalnya, jarak antara Blok Koneung dengan Pasar Curug Agung hanya sekitar 200 meter. 

"Akibat pemerintahan tidak berani mengambil tindakan tegas, jumlah pedagang di Blok Koneung terus bertambah," kata Iwan salah seorang pedagang. 

Sepinya pembeli di Pasar Curug Agung membuat banyak pedagang memilih tutup lebih awal. Pada siang hari kondisi pasar sudah sepi, hanya menyisakan beberapa orang pedagang. 

"Siang hari konsumennya nyaris tidak ada. Buat apa buka kalau tidak ada yang beli," ungkapnya. 

Posting Komentar

0 Komentar