Banyak Indikasi Korupsi Dana Bantuan Pertanian, Kejaksaan Wajib Periksa Seluruh Gapoktan

Banyak Indikasi Korupsi Dana Bantuan Pertanian, Kejaksaan Wajib Periksa Seluruh Gapoktan

SUBANG - Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Ade Rahman yang beralamat di Kp. Pasir Menyan Desa Sukamandi, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang diduga melakukan tindak pidana korupsi dana bantuan dari Dinas Pertanian Kah. Subang yang bersumber dari dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Tahun 2015 sebesar Rp450.000.000.-

Terbongkarnya kasus ini berawal dari pengakuan sejumlah pengurus kelompok tani yang ada di kampung setempat. 

Menurut pengakuan mereka, didalam kelompoknya tidak pemah menerima dana bantuan dan tidak pemah diajak bermusyawarah saat pencairan dana oleh oknum ketua gapoktan terse but. 

"Seharusnya dana tersebut digunakan untuk kegiatan tani diantaranya pembibitan, pembelian pupuk, dan kegiatan pertanian lainnya. Namun lebih dari setengah anggaran digunakan, uang sebesar Rp450.000.000 hanya digunakan untuk keperluan pribadinya," ujar salah satu masyarakat yang namanya tidak mau disebutkan kepadaPerak. Selain itu, menurut keterangan yang disampaikan beberapa sumber lainnya kepada Perak, Kamis (25/08), diduga keras uang tersebut digunakan untuk membangun rumah sang ketua gapoktan, sambungnya, semua bantuan yang masuk ke Kp. Pasir Menyan seperti pupuk dijual sebanyak 800 kg ke Kp. Cigeurang, Desa Cicadas, Kab. Subang. 

Bantuan hewan ternak kambing untuk petani yang miskin pun, tidak dibagikannya oleh ketua gapoktan, hanya dilalap habis sendiri. 

Dari penelusuran Perak, diduga Ade Rahman "bermain" dengan salah satu oknum Dinas UPTD Pertanian Kee. Sagalaherang, sebut sajaAtang. 

Sejumlah pengurus kelompok saat dikonfirmasi secara terpisah berharap kepada aparat penegak hukum seperti kejaksaan dan Unit Tipikor Polres Subang agar selalu pro aktif dalam dugaan penggelapan bantuan ini. Harapan pengurus gapoktan tersebut agar mengusut dugaan korupsi dana yang dilakukan oleh oknum sang ketua gapoktan. Jika terbukti oknum tersebut bersalah, maka mereka meminta agar diproses hukum yang berlaku. Dari penelusuran Perak, bukan hanya Gapoktan Kp. Pasir Menyan, Gapoktan Sukamulya yang beralamat di Kp. Sukamandi I, sebut saja Samsudin ketua kelompok tani pun diduga keras terlibat tindak pidana korupsi program yang sama anggaran dari dinas pertanian yang dibiayai sebesar Rp450.000.000 dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2016 untuk 2 (Dua) program yaitu penggiling padi serta pengadaan pupuk organik. 

Namun sayangnya diduga uang tersebut hanya direalisasikan untuk pengadaan pupuk organik, setengah bagian lainnnya untuk rumah pertanian. Namun yang setengah bagian digunakan membangun rumah sendiri dan untuk penggilingan padi pun tidak ada, yang ada hanya punya kakaknya saja. 

Ditempat terpisah, Kades Sukamandi Yayan saat dikonfirmasi Perak, Kamis (25/08/2016) seputar kelompok tani, dia berdalih tidak tahu-menahu. 

Hingga berita ini dibuat, Perak belum bisa menemui Ketua Gapoktan Sukamandi maupun pihak UPTD Pertanian Kecamatan Sagalaherang. Selain itu, Gapoktan di Desa Dayeuh Kolot menerima bantuan berupa pupuk sebanyak 7 ton dan obat-obatan, namun mendapat keluhan dari Ketua Kelompok Tani Karya Jaya kepada Perak (25/08/2016) sebut saja Apendi diberhentikan secara tiba-tiba dengan alasan kurang aktif. 

"Padahal saya selalu aktif setiap ada acara apapun, ketika saya diberhentikan bantuan pun banyak yang turun," ucap Apen. 

Beruntung, setelah berbagai permasalahan kelompok tani dengan masyarakat di desa Dayeuh Kolot, maupun kepala Gapoktan Desa Dayeuh Kolot Didi bermusyawarah dengan para kelompok tani dan Tim Investigasi Pemberantasan Korupsi Forum Masyarakat Peduli (FMP), akhimya masalah tersebut dapat diselesaikan. 

Dengan tuduhan masyarakat sebelumnya kepada Sarip menjual obat, namun faktanya Sarip memberikan sisa obat-obatan mitrobio sebanyak 30 dus kepada Edeh karena kebutuhan sudah tercukupi kepada petani, makanya sisa obat diberikan kepada pihak KTNA Pertanian Kee. Sagalaherang. 

Posting Komentar

0 Komentar